Jenuh

Siapa yang tidak pernah merasakan jenuh. Manusia mana yang tak mempan lewat serangan jenuh, bahkan para peneliti hewan yang kurang kerjaan juga menemukan bahwa terkadang hewan yang ditelitinya juga jenuh. Sebahagian manusia yang beruntung menemukan musabab kejenuhannya, sebahagian kecil terkadag bingung kenapa bisa disapa tabiat buruk manusia tersebut. Tapi sebahagian besar manusia dari sebahagian besar manusia yang menemukan sebab kejenuhannya h Continue reading

Tagged ,

Sudah sepi, sekarang mau apa lagi
janji-janji sudah menghitam di legam malam
ratu malam menyambitmu terbelah karena elokmu
sudah sepi, keluargaku sudah menanti

Sudah malam, sekarang dini yang berjaga
Petang tadi jalan yang terjulur sedikit panjang
jumpa terulur kembali tak pasti
sudah malam, keluargaku sudah menanti

Aku memilih pulang
menunggu juga sia-sia
lenguhanmu sudah digilir pasti

aku memilih pulang
esok mungkin aku tak datang
keluargaku terlalu lama kudiamkan
mereka sudah menanti

Aku Pulang

seperti melangkahi waktu
hatiku telah rintik saat sore tadi
sementara lagit masih sekedar kelabu
mendung hanya separuh mengawini awan

seperti mengkhianati waktu
memori sering sembunyi menyusup ke pikiran
memaparkan keindahan silam yang semestiya tersimpan
kenangan rutin membangkang

seperti melawan waktu
semuanya menjadi poranda
sebab harap merayu akal
untuk menolak asa membentuk cita

sampai kuyub jalanan kota
semuanya seperti membenci waktu

Membenci Waktu

Tagged , , , , ,

Tak Perlu Datang

Kau tak perlu datang kemari

membasahi kakimu melewati kubangan penuh lumpur, lompatanmu akan menciptakan ciprat noda kotor pada gaun indahmu

Kau tak perlu datang kemari Continue reading

Tagged , , , , ,

Kehilangan dan Luka Itu Perlu

 Kamu…maksudku bayanganmu masih saja  menempati tempat terindah dalam hatiku, sampai kapan aku tak tahu. Dan dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu. Hingga aku merasakan redupnya cahaya hati ku pada saat akal mengingat apa yang telah kau tunjukkan, apa yang telah engkau berikan.

 Air mataku tak mampu kutampung lagi bendungannya yang telah terlalu lama menahan kini tak sanggup lagi kini tak kuat lagi. Aku membiarkannya tumpah hingga pipi membasah, aku membiarkannya mengalir agar hati tak terus menggigil, iyaa.. aku menangis. Aku memilih menangis  di malam ini aku memilih menangis di kamarku ini. Tiba-tiba..

 “Cukup sudah kau tertahan dalam persimpangan masa silammu itu“

Aku terkejut medengarnya, suara itu suara yang mampu menjinakkan amarah tak karuan, suara yang mampu menenangkan hati yang berantakan. Suara yang aku rindukan dalam tahunan.

 “Kamu ??”

 “Iya sayang. Ini aku.”

Jawabmu sambil serahkan senyum terindah milikmu,bukan.. bukan hanya senyum mu, wajahmu, rambutmu, semua kamu karena kamu adalah keindahanku.

“Kenapa kau harus terus menangis saat mengingat ku”

 “Kau pasti tahu kenapa”

 Kau cemberut senyummu mengkerut tatapanmu sedih, aku tidak suka.

“Cobalah untuk melawan getir yang terus kau kecap itu.  Bukannya malah membiarkannya masuk dan meresap ke dalam sukmamu”

Aku sudah mencobanya”  jawabku yakin

 “Aku tak bisa bahkan hanya sekedar tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu aku tak bisa, ia seperti  telah mengalir mengisi laju darahku”

“Aku tak bisa, bahkan hanya sekedar tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu. Sudah membaur bersama laju darahku”

Kemudian kita menyatu dalam diam menyatukan kamu yang kecewa akanku menyatukan aku yang kecewa akan keadaan. Semuanya telah berbeda sekarang diam kita pun tidak tetang saling menyampaikan cinta lagi. Dan seperti biasa kau tahu isi kepalaku.

“Semuanya tak sama lagi sayang.. dan tak akan pernah sama” kata-kata mu penuh dengan kesedihan.

“Kau benar semua tak sama lagi, apa yang kusentuh apa yang kukecup, tak ada yang hangat sehangat pelukmu tak ada yang lembut selembut belaimu”

“Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu”

 Kau menghela nafasmu melepaskannya kencang seolah kau sedang berhadapan dengan masalah tersulitmu, padahal aku yang sedang bermasalah terhadapmu.

 “Kau tahu arti hidupku sekarang ini, hanya sekedar memapahku dalam ketiadaan”

“Tak mampu tegak  sekarang semuanya segalanya telah  luruh lemah tak bertumpu, Hanya bersandar pada dirimu”

 “Aku tak bisa, sungguh tak bisa untuk menggantkan kamu dengan yang lain bahkan dengan dirinya”

Dan setelah kau mendengar itu aku malah menyesal mengatakannya, ternyata kau masih bisa menangis, tapi aku tak mau melihatnya aku tidak suka aku tidak ingin melihatnya karena basahnya pipimu adalah cambukkan yang menghasilkan perih untuk hatiku, aku menyesal.

 “Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuat kamu mengeluarkan air mata” bujukku

“Tidak masalah bagiku jika aku harus menangis, tapi yang menjadi masalah sampai kapan kau terus bertahan seperti ini”

“Sampai kapan kau tetap terus tenggelam dalam masa lalumu akanku. Sampai kapan kau mesti terlepas dengan masa depanmu”

“Bukankah telah kukatakan padamu hidup tak selamanya indah, bukankah kita saling berjanji untuk menghadapi apapun yang akan terjadi dan menyerahkan semuanya kepada Tuhamn”

“Bukalah mata dan hatimu relakan semua relakanah aku “kau mengataknnya sambil tersenyum senyum paling indah yang kamu ukir buatku dan seperti biasa kamu dan bahasa lembutmu mampu menenangkan aku.

 Keesokan Harinya…

Cahaya hangat mentari pagi menerobos masuk dalam sela-sela jendelaku membangunkan aku menepuk lelap dari tidurku agar tersadar. Dan ternyata tadi malam pertemuanku denganmu hanyalah berupa mimpi tapi terasa nyata.Aku bangkit dari tidurku dan duduk di tepi kasurku mengingat mimpi bertemu kamu, kamu hebat hanya sekedar mimpi pun bahkan menenangkan aku.

Dan tanpa sengaja saat aku mengingat mimpi itu tanganku menyentuh sebuah tanaman yang terletak disampingku. Aku mengambilnya dan terkejut melihatnya, karena tanaman ini adalah tanaman kesukaanmu.

“Padi ?”

“Siapa yang meletakkannya?”

Dan tanpa kuperintah akalku mengingatkan ku perkataan yang pernah kau ujarkan dulu, sebuah kalimat yang menyebabkan mengapa kau begitu menyukai tanaman yang aku gak pernah ngerti apa maksudnya.

Kehilangan dan luka itu perlu, Karena padi saja harus melepas dari batangnya untuk menjadi nasi

Sekarang aku mengerti , sekarang aku merelakanmu  Kau pasti bahagia disana bersama Tuhan.

“Terimakasih telah hadir tadi malam ?”

(Cerita fiksi ini di adaptasi dari lagu padi “Semua Tak Sama”)

Tagged , , , , ,

Pujangga, Senja dan Pecinta

Mereka adalah pujangga ulung
Mencintai senja beserta jingganya
Kemudian meramunya dalam secawan puisi
Menggoda pecinta yang dimabuk oleh cintanya sendiri
Sementara aku masih rutin menyimak dari ujung pintu masuk

Tagged , , ,

Mati..!!!!

Hari ini bertepatan pada tanggal 26 april yang dimana adalah hari yang cukup mengejutkan buat makhluk tampan seperti aku ini. Semua itu karena ada 3 kabar duka cita yang kudapati. Iyaa… 3 orang (2 aku kenal 1 tau di tipi) meniggal. Bukan itu aja, orang-orang yang kudengar meninggalkan dunia yang fana ini adalah orang-orang yang kuketahui punya sifat yang baik.  Sehingga berita 3 orang yang meninggal itu membuat aku berfikir (tapi buan berarti kalau ada orang yang mennggal aku baru berfkir ya).  Dan orang-orang baik yang meninggal itu adalah… Continue reading

Tagged , , ,

Jalanan

Mataku jelalatan memandangi tumpukan-tumpukan novel di rak-rak toko buku ini. Aku terpukau begitu banyak khayalan-khayalan manusia yang di tawarkan disini, aku cemburu. Khayalanku sendiri hanya mampu terapung sebentar dalam tempurung kepala kecilku kemudian seketika menguap entah kenapa, sepertinya khayalku gak mampu aku ubah menjadi deretan-deretan kata seperti mereka.
Pilihannya begitu sulit tere-liye, benzbara, dee, andrea hirata, beberapa novel terjemahan, aku terpekur merenung memilih memegang-memegang mereka, membaca sinopsis, dan daftar harga juga turut kupikirkan. Novel-novel yang menggambarkan penulis wanita jelita kuabaikan, walaupun tulisannya bagus tapi mereka seperti menjual wajah manis mereka, aku gak suka.
Pilihan ku jatuh pada tere-liye dengan burliannya dan benzbara dengan kata hatinya. Aku gak tahu jelasnya kenapa aku memilih keduanya yang jelas keduanya mampu menerangkan maksud kahyalannya dalam deretan kalimat manis. Jika aku gak suka ceritanya mungkin aku bisa belajar bagaimana mereka menulis maksud dari khayalan mereka dengan manis.
Keluar dari toko buku ini sengatan matahari memanaskan tubuhku membuat kulit harus terpaksa menyesuaikan dengan suhu kota ini yang seperti sedang mengamuk karena manusianya seerti tak tahu diri menumpang diatasnya. Jalanan pun menjadi lahan penghitam kulit, penaik emosi, dan juga penutur kemarahan kota.
Tujuan ku bukanlah pulang, rumah bukan lah tempat yang kuidam-idamkan untuk mendinginkan malahan bisa jadi emosi ku menjadi lebih panas dari suhu di luar. Aku memilih untuk duduk di sebuah cafe lemon tea ice dan dilanjutin sama kopi hitam adalah cara terbaik untuk menghabiskan waktu ku hingga sore beserta suntukku hingga habis.
Sudah gelas kedua dan hari hampir gelap aku juga belum bisa mengerti kenapa aku sekarang ini, semalam,  beberapa hari yang lalu, beberapa minggu yang lalu, dan beberapa bulan yang lalu. Kau tahu sayang aku merindukanmu tapi serangan suntuk kali ini bukan karena merindukanmu. Kau tahu sayang mungkin kau bisa meminta kepada Tuhan untuk menenangkan aku, bukankah kau lebih dekat kepadaNya kini.
Tagged , ,

Hidup Adalah Senandung

Hidup sebenarnya sedang bersenandung
bernyanyi lewat melodi takdir yang di ukir Si Penakdir
kadang bersenandung mesra dalam hentakan bahagia
kadang menyanyi pilu dalam melankolia duka

Tagged , ,

Mari Kita Bersajak

Mari kita bersajak

Tak perlu takut akan rima yang sering kita bingungkan

Mengatur ujung-ujung kalimat agar terbaca seirama
Bersajak saja sesuka hati kita
Mengatur kata-kata indah versi kita
Bukan kah dalam kehidupan sendiri
kita sudah terlalu sibuk dengan aturan-aturan
Menjalankannya agar seirama dengan pikiran
Apa tidak terlalu muak seperti itu terus
Sementara sajak sendiri tidak peduli pada aturan-aturan
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbentuk
Tertulis dalam deretan paragraf
Ia juga tak peduli pada baris
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbaris
Entah itu banyak baris
Entah itu satu baris
Ia juga tak peduli pada jari-jari tangan yang menulis
Dia hanya peduli bahwa ia akan tertulis
Entah itu pada goresan pena
Entah itu pada coretan tinta
Atau mungkin pada lembaran dalam berkas di komputer
Mari kita bersajak
Jangan peduli pada rima
Jangan sampai sajak muak
karena terlalu lama di pendam dalam tempurung akal
Mari kita bersajak
Tagged