Aneh Ya Kotaku


Matahari mulai meniggi , menaikkan suhu yang setiap hari semakin senang saja untuk membuat orang-orang mencucurkan keringatnya. Kebisingan khas kota yang sibuk makin menjadi, hiruk-pikuknya semakin bertambah setiap tahunnya disertai orang-orang dari kampung mendatangi kota yang semarawut ini sekedar untuk menaikkan derajatnya dikampung sana. Beberapa yang beruntung menjadi berhasil dan membanggakan keluarganya di kampung lewat surat yang juga disertai uang untuk meunjukkan bahwa mereka sukses di kota, sebahagian lagi yang gagal ada yang pulang ke asalnya, sebahagian lagi menggelandang di kota, sebahagian lagi menjadi terkenal di kampung karena wajah dan namanya tampil di acara berita tv sebagai tukang rampok. Dan beberapa ribu lainnya adalah pelajar yang ingin bertambah pintar dan menimba ilmu di kota. Menjadi pintar tujuan utamanya dari kampung, ataupun kuliah dan menjadi sarjana yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tapi ditengah jalan sebagian besarnya yang tak sanggup melawan godaan sesat dari kota membuat ayahnya yang juragan sawit menjadi bangkrut, sebagian lagi menjadikan langganan pria hidung belang. Gak sedikit juga yang sukses dan berhasil diterima kerja oleh perusahaan asing kerja diluar negeri dengan gaji yang besar, lupa pada Negara karena sibuk maju-majuin negara orang yang udah maju dari dulu. Entah lha, apa yang bakalan terjadi pada kota yang semakin sembarangan ini.

Suhu meningkat setiap tahunnya, gak peduli siang ataupun malam, efek rumah kaca yang berlebihan buat orang semakin suka baju walaupun pada malam hari. Pantas saja jumlah anak di kota ini semakin tinggi padahal jamainan sosial bagi setiap warga kota itu gak dijamin oleh para kepala suku dari kota itu. Menjengkelkan bukan, untung saja ada dukun beranak yang membunuh calon anak dari perut pasangan muda yang belum mau punya anak, jika tidak ada mereka mungkin jumlah penduduk kota ini semakin membengkak. Sepertinya para praktisi dukun beranak udah banting setir. Biasa lha hukum permintaan semakin banyak permintaan dari konsumen semakin menjamur praktik sperti itu.

Belum lagi hutan-hutan yang digunduli oleh para tukang kayu, katanya sih untuk kebutuhan hidup tapi kok semengerikan itu mereka menebangnya gak memeikirkan apa akibatnya dari gundulnya hutan. Apa mungkin ia menghidupi istrinya, anaknya, pamannya, emaknya, ayahnya, istri keduanya, wanita simpananya dan para pelacur yang di jumpainya. Gak bermaksud suudzon sih tapi kondom laku keras belakangan ini. Banyak diantara penduduk kota itu yang menginginkan pekerjaan sebagai abdi kota, itu lho yang pake’ baju coklat yang datangnya jam 7 (karena kesibukannnya masuk jam 10 ) duduk nyantai tulis sana-sini, (karena kesibukannya di rumah ia udah pulang jam 3) pulang dari kantor jam 5 dapat gaji di pengujung bulan yang gak seberapa. Gak papa kok bagi mereka saat jam kerja selama sebulan ada gaji gak tertulis yang masuk ke kantong mereka. Gak bermaksud sudzon sih, tapi karena uangnya gak jelas pencernaan mereka gak lancar perut mereka buncit tuh.

Beberapa dari penduduk kota ada yang bersorak dengan lantang, bakar-bakar ban, buat macet, bikin kerusuhan, teriak-teriak “INI DEMI RAKYAT….!”. oh ya mereka disebut mahasiswa aku lupa mereka disebut apa, soalnya mereka jarang kelihatan berada di kampus, aku lebih sering melihat mereka di warung kopi. Semalam pemimpin group-teriak-teriak-bikin-macet-dan-panas itu jumpai pimpinan partai politik lawan dari pimpinan partai politik yang sedang mereka protes. Gak papa lah uangnya kan bias buat makan. Aneh ya kota ini.Tapi gak papa lha toh, aku juga tinggal di sini

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: