Tulisan gak Perlu Judul


Hujan yang belakangan ini rutin menyiram malam hari menciptakan suara merdu bagaikan lagu nina bobok bagi siapa saja yang ingin terlelap setelah seharian sibuk mengisi kota. Cuacanya yang dingin seolah bumbu penyedap bagi sebagian besar manusia dikota itu untuk menutupi harinya yang membosankan ataupun menyenangkan ataupun melelahkan ataupun menjengkelkan (banyak lagi sebenarnya). Bahkan para insom gak bakalan kumat, mereka akan sembuh untuk sementara dan mungkin bakalan bangun kesiangan. Untungnya  tidak setiap hari , jika begini terus stasiun tivi bakalan berhenti tayang 24 jam sehari.

Sementara didalam sebuah kamar kecil disebuah daerah dikota pengap itu manusia berjenis kelamin pria (karena ada jakun dilehernya, bukan karena ia full naked) melamun dengan wajah menatap atap kamar tapi pikiran sedang tak akur dengan badan, pikiran sedang keluyuran tidak pada tempatnya. Sepertinya ada selisih paham antara tubuh dan pikiran, mereka kelihatan gak kompak belakangan ini. Itu terlihat dari keadaan pemiliknya belakangan ini, ia sudah langganan melamun setiap malam pada hujan.

Jadi jika didapatinya malam hujan maka dengan terpaksa pria itu mengusir rasa kantuk dikepalanya. Pria itu merasa rugi jika ia tidur disaat hujan pada malam hari, karena harga yang dibayar untuk menikmati lamunan itu adalah sebuah kesakitan. Kesakitan dan tidak lupa sebagai ongkos kirim pria itu membayarnya dengan berliter-liter air mata. Bahkan karena sifat baiknya pria itu memiliki ide bagaimana jika airmata yang tumpah dari pelupuknya ia siram ke benua kering (sayang selain ga ada ongkos pria itu gak tau alamatnya).

Pria itu tanpa sadar merasa menjadi pria paling pecundang di muka bumi ini (ini Cuma perumpamaan, jika ada yang nanya dimana idung bumi, kemungkinan besar  idungnya pesek). Ia begitu karena merasa gak patut dipertahankan oleh siapapun, untuk kesekian kalinya  ia ditinggalin gitu aja dengan sesuatu rasa dihati yang  selama ini dijaganya hanya untuk sesosok makhluk lelembut (iya wanita !! Kan kalian yang bilang kalau kalian berhati lembut). Dan membuat pria itu tertimpa oleh reruntuhan cita-cita bersama makhluk lelembut itu.

Runtuh  rubuh dan menghimpit kaki pria malang itu sehingga menghambat langkah kaki dari pria itu untuk bangkit kembali. Seandainya pria itu gak buat cita-cita bersama makhluk lelembut itu tinggi-tinggi, mungkin pria itu sekarang  sedang mimpi dan bakalan bangun kesiangan beserta kewajiban untuk mandi wajib (mengingat kondisinya yang malam  dan hujan lebat, itu wajar). Bukannya malah langganan melamun hampir setiap malam.

Lagian pria itu seharusnya  nyadar apa yang patut dipertahanin dari dirinya. Apa yang ada sama dia, apa yang udah diraihnhya, apa yang bisa dibelinya dengan uang hasil kerjanya, dan tentu aja jawabannya adalah GAK ADA. Jadi wajar kalau ia ditinggalin gitu aja, dan predikat PECUNDANG sepertinya sekarang cocok dan memang pantas buat pria itu.

Seharusnya juga ia melihat dikamar sebelah di rumahnya bahwa masih ada keluarga yang sayang sama dia. Seharusnya ia juga melihat dikampung sebelah masih ada yang gak sempat melamun akibat patah hati karena perutnya minta diperhatikan lebih tepatnya kelaparan, atau mungkin kedinginan karena hujan yang lebat sementara rumahnya hanya jalan aspal beratap bangku taman.

Dan juga seharusnya (ini “seharusnya” yang terakhir) pria itu sadar, bahwa kehidupan di dunia ini bukan hanya soalan remeh temeh percintaan. Ia masih muda jalan hidupnya masih panjang, masih banyak yang harus ia perbuat masih banyak  yang harus ia raih dan kemudian membuat dunia melihatnya karena dengan apa yang diraihnya ia mampu berteriak lantang kepada dunia bahwa dia ada (sekali lagi, itu cuma pengandaian).

Seharusnya waktu melamunnya udah habis dan berhenti jadi penyewa melamun kepada malam yang hujan. Kini waktu yang tepat baginya buat mendamaikan pikiran dan tubuh lagi, menjadikan mereka akur dan kemudian jadi alat untuk menggapai bahagianya, menjadikan dirinya bergerak berirama dengan melodi kehidupan, menciptakan tarian kesuksesan yang akan dimainkannya kelak.

Heyy… Ia sepertinya sadar ketololannya itu telah diceritakan. Sepertinya ia udah sadar karena ia mencoba tersenyum, dan senyumannya kelihatan ikhlas tanpa beban. Mungkin kalimat-kalimat barusan masuk keotak semi permanennya. Dan karena malu rasa kantuk yang merajuk   karena diusirnya tadi dipanggilnya bahkan dibujuk untuk bertandang kematanya.

Malam yang sempurna untuk tidur pikirnya dan perlahan kantuk pun menguasai matanya perlahan ia mulai terlelap. Ia berada di depan pintu mimpi hampir bergabung bersama penghuni kota pengap yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpi (baik basah maupun kering) .Sebelum kemudian ia terbangun lagi, tersadar karena ia belum baca doa tidur yang menjaganya dari gangguan setan saat tidur. Ia gak mau setan ciptain mimpi yang memaksanya mandi wajib sebelum subuh. Terpaksa mandi saat matahari belom nongol bakalan buat dia masuk angin (kasian pria itu, selain hati ternyata tubuhnya juga lemah).

“Bismika allahumma… zzzzzz” belum selesai doanya pria itu mlah tertidur. Dari awal panjang lebar diceritain dia diem aja belagak gak peduli gitu, eh pas diakhir dia malah ngomong udahlha cuma baca doa mau tidur gak lengkap pulak lagi. Hadeh !! dasar tabiat buruk.

 

(Awil  Fariza, 23 tahun, korban patah hati)

 

(Awil Fariza, 23 tahun, calon orang sukses  yang sayang mamak dan adik-adiknya)

Advertisements
Tagged ,

One thought on “Tulisan gak Perlu Judul

  1. Aku berniat ngasih judul untuk postingan ini. Anda tertarik silahkan hubungi saya. Saya akan kasih harga spesial musim hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: