Perjalanan Panjang nan Melelahkan


(Kejadian bodoh dan mengenaskan  ini sebenarnya gak perlu terjadi, seandainya kawan aku yang bernama Din Affriansyah a.k.a Agam gak perlu malu untuk bertanya diamana jalan Sei Siput sialan itu berada.)
     Minggu itu aku berencana pengen pergi ke gramedia, pengen beli buku di toko buku Gramedia. Buku itu udah kupeter-peter selama semiggu yang lalu, karena kebetulan kemaren itu uang yang kumiliki cuma cukup buat beli buku “microproseccor and interfacing” -apa itu artinya, aku juga gak tahu- buat bahan pembelajaran mata kuliah peripheral and interfacing. jadi terpaksa aku harus bersabar buat nunggu minggu depannya demi ngumpulin duit terlebih dahulu. Seminggu kemudian, setelah uang terkumpul akhirnya aku bakalan pergi menuju ke toko buku gramedia. Tapi sayang aku gk pernah hapal jalan kesana , walaupun aku udah lebih dari 5 kali ke sana.
      Kebetulan pada hari itu juga kawanku @dinneno -tapi aku biasanya manggil dia agam- pengen pigi juga buat ngantarin surat lamaran kerja ke PT. Pharos yang beralamat di jalan sei siput. Apaaa…..??? dimana letaknya jalan itu. apa jalan sei siput emang ada di kota medan?.
      Perjalanan pun dimulai, karena berhubung aku gak hapal jalanan dikota yang udah kutinggalin hampir 21 tahun lebih ini, jadinya yang mengendarai sepeda motor adalah manusia setengah allien tersebut. Ceritanyapun kupersingkat. Perjalanan yang sesat lagi menyesatkan ini,  telah sampai 1 jam  lebih perjalanan, yang menyiksa batin, jiwa dan ragaku, dan membuat pantat super teposku berontak, ingin rasanya berdiri menjauh dari jok sepeda motor yang telah menyiksanya(pantat aku) dengan penuh kesadisan.
      Karena aku sudah merasakan capek di badanku, aku mengusulkan kepada anak jelmaan gerandong (hanya efek stress di jalan, dia gak mirip gerandong kok) untuk bertanya sama penduduk sekitar. “Gam tanya aja lha sama orang2 sini, dah capek kali aku” usulku dengan perasaan merana yang teramat sangat. Si jelmaan gerandong ini malah bilang ” Gak usah, ntar lagi juga dapat jalannya. ” . Asem bener nih bocah apa dia tidak merasakan kesakitan dipantatku , repet batinku .
“Lek seperti kata pepatah malu bertanya sesat di jalan” kataku mengeluarkan pepatah dengan tujuan membujuk bocah setengah alien ini untuk bertanya kepada orang2 sekitar dimana letak jalan bedebah sei siput tersebut.
Dengan pedenya dia malah bilang ” nanya-nanya ko pikir wartawan”. Demi mendengar itu rasanya aku pengen ngebunuh nih bocah. tapi kayaknya tusuk gigi yang kupegang gak  bisa nembus kulit badaknya.
Akhirnya aku memilih menikmati perjalanan ini dengan siksaan yang semakin menjadi di pantatku yang tepos ini. Dengan ngebayangin kalo saja diperjalanan kami yang freak dan tersesat ini, tanpa sengaja aku nemuin koper isinya duit 3 triliun. Dengan uang itu aku bakalan buat usaha dan sisanya buat ngelamar Asmirandah, asoy bener nih khayalan.
Tapi ditengah khayalanku yang indah  ini  bocah ini malah  memberhentkan sepeda motor. “bentar ya !” ujar si Agam meberhentikan sepeda motor kami dan menghampiri seorang ibu-ibu. sejenak kemudian dia kembali .
Aku penasaran dan bertanya. ” ngapain kau ?””ko liat ?!” ujarnya sambil menghidupkan mesin sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan.
“kenalan sama ibu itu. ! Kok gak kau minta nomor hapenya sekalian ?”

” kampret kau, aku nanya jalanya lha…?”

” ya kau, mana lha ku tahu kalau kau nanya alamat ?”

 ” dimana katanya ?”

 ” terus aja nemu simpang tiga belok kanan, terus lagi habis tuh belok kiri.”

” jadi…?”

” jadi apanya ?”

” ibu itu gadis atau janda ?”

” kanciang ang lha, ma tau den. lagi pulo indak amuah den jo ibu-ibu takah itu.” repetnya dongkol dengan bahasa minang.

” hahahahaha……  saba lha da ,jan bangiah. beko indak dapek do alamatnya.!”

Dan perjalanannya kami lanjutkan kembali, dan perasaanku senang bukan kepalang, seperti seorang yang tersesat di gua  gelap yang nemu senter lengkap dengan batere dan cara penggunannya. Ya walaupun kami nemuin kesulitan disaat setelah belok kekanan dari simpang tiga yang dibilangin ibu tadi. Tapi bocah setengah alien kawanku ini gak malu lagi buat nanya dimana jalannya sei siput itu. Kami pun menemukannya. Masuk kekantor tersebut dan meletakkan map coklat yang berisi surat lamaran pekerjaan si Agam itu.

“Tuh kan cukup dua kali bertanya, kita udah nemuin jalan sei siput ini.” kataku ditengah perjalanan menuju gramedia.(bahkan aku hampir lupa klo sebenarnya aku mau ke gramedia.

“Jalannya terpencil kali, kek mana mau dapat.” dia malah ngeles.

“Makanya itu kalo gak tahu jalan, ya tanya lha sama orang.”

“Yaudah jangan marah-marah lha, jadi kita kan ke gramedianya ?”

” Jadi lha… udah capek nahan pedih aku, malah gak jadi pula.”

Dan kami pun sampai di Gramedia, ngeliatin buku-buku dulu, nemu buku yang kucari, ke kasir, bayar, naerima kembalian dan pulang lagi. Perjalanan sinting ini buat aku capek, aku pengen merebahkan badan selonjoran tidur. Perjalanan nyeleneh ini buat aku yakin akan pepetah yang mengatakan “Malu bertanya sesat sesat dijalan, merana di badan ”

Kesimpulan :
-Kalau kita enggak tahu jalan menuju alamat yang dituju,   bertanyalah
 -Jika kalian pergia dengan teman yang setipe dengan teman aku itu, sediakan pisau tajam.dari rumah.
Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: