Monthly Archives: February 2013

Jalanan

Mataku jelalatan memandangi tumpukan-tumpukan novel di rak-rak toko buku ini. Aku terpukau begitu banyak khayalan-khayalan manusia yang di tawarkan disini, aku cemburu. Khayalanku sendiri hanya mampu terapung sebentar dalam tempurung kepala kecilku kemudian seketika menguap entah kenapa, sepertinya khayalku gak mampu aku ubah menjadi deretan-deretan kata seperti mereka.
Pilihannya begitu sulit tere-liye, benzbara, dee, andrea hirata, beberapa novel terjemahan, aku terpekur merenung memilih memegang-memegang mereka, membaca sinopsis, dan daftar harga juga turut kupikirkan. Novel-novel yang menggambarkan penulis wanita jelita kuabaikan, walaupun tulisannya bagus tapi mereka seperti menjual wajah manis mereka, aku gak suka.
Pilihan ku jatuh pada tere-liye dengan burliannya dan benzbara dengan kata hatinya. Aku gak tahu jelasnya kenapa aku memilih keduanya yang jelas keduanya mampu menerangkan maksud kahyalannya dalam deretan kalimat manis. Jika aku gak suka ceritanya mungkin aku bisa belajar bagaimana mereka menulis maksud dari khayalan mereka dengan manis.
Keluar dari toko buku ini sengatan matahari memanaskan tubuhku membuat kulit harus terpaksa menyesuaikan dengan suhu kota ini yang seperti sedang mengamuk karena manusianya seerti tak tahu diri menumpang diatasnya. Jalanan pun menjadi lahan penghitam kulit, penaik emosi, dan juga penutur kemarahan kota.
Tujuan ku bukanlah pulang, rumah bukan lah tempat yang kuidam-idamkan untuk mendinginkan malahan bisa jadi emosi ku menjadi lebih panas dari suhu di luar. Aku memilih untuk duduk di sebuah cafe lemon tea ice dan dilanjutin sama kopi hitam adalah cara terbaik untuk menghabiskan waktu ku hingga sore beserta suntukku hingga habis.
Sudah gelas kedua dan hari hampir gelap aku juga belum bisa mengerti kenapa aku sekarang ini, semalam,  beberapa hari yang lalu, beberapa minggu yang lalu, dan beberapa bulan yang lalu. Kau tahu sayang aku merindukanmu tapi serangan suntuk kali ini bukan karena merindukanmu. Kau tahu sayang mungkin kau bisa meminta kepada Tuhan untuk menenangkan aku, bukankah kau lebih dekat kepadaNya kini.
Tagged , ,

Hidup Adalah Senandung

Hidup sebenarnya sedang bersenandung
bernyanyi lewat melodi takdir yang di ukir Si Penakdir
kadang bersenandung mesra dalam hentakan bahagia
kadang menyanyi pilu dalam melankolia duka

Tagged , ,

Mari Kita Bersajak

Mari kita bersajak

Tak perlu takut akan rima yang sering kita bingungkan

Mengatur ujung-ujung kalimat agar terbaca seirama
Bersajak saja sesuka hati kita
Mengatur kata-kata indah versi kita
Bukan kah dalam kehidupan sendiri
kita sudah terlalu sibuk dengan aturan-aturan
Menjalankannya agar seirama dengan pikiran
Apa tidak terlalu muak seperti itu terus
Sementara sajak sendiri tidak peduli pada aturan-aturan
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbentuk
Tertulis dalam deretan paragraf
Ia juga tak peduli pada baris
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbaris
Entah itu banyak baris
Entah itu satu baris
Ia juga tak peduli pada jari-jari tangan yang menulis
Dia hanya peduli bahwa ia akan tertulis
Entah itu pada goresan pena
Entah itu pada coretan tinta
Atau mungkin pada lembaran dalam berkas di komputer
Mari kita bersajak
Jangan peduli pada rima
Jangan sampai sajak muak
karena terlalu lama di pendam dalam tempurung akal
Mari kita bersajak
Tagged

Sampai di Ujung Jalan

Kekasih..

Bukankah tangan kita telah menggenggam, tapi kenapa mulut kita masih saja bergumam menyulut tengkar. Walaupun setelah itu kita akan berjabatan melupakan, tapi apakah kau tidak bosan sayang, yang sesekali bermusuhan karena ego lebih di kedepankan. Aku muak sayang biarkan saja tangan yang menggenggam ini hanya bertugas menggenggam tanganmu jangan karena bermaafan, aku letih untuk itu.
Kekasih
Bukankah hati kita telah bertautan, kenapa akal kita masih adu hantam mementingkan prinsip. Walaupun kelak kan berdamai saling membuat senyum, tapi apakah kau tidak jenuh sayang, yang sesekali beradu argumen karena mengutamakan faham. Aku lelah sayang biarkan hati kita saja yang bertautan kesampingkan saja akal dengan prinsip-prinsipnya, bukankah kita setuju cinta itu tentang hati bukan ranah akal untuk membahasnya.
Kekasih
Kita sama-sama telah sepakat untuk melangkah kaki di jalur jalan yang sama, ujung jalannya memang tak tampak jaraknya sangat jauh mungkin kaki-kaki kita akan letih di tengah jalan. Tapi kita tak kan saling meninggalkan kan ?. Memang tak ada kuikrarkan janji seperti itu dan kau juga tak pernah mengikrarkannya, tapi bukankah kesepakatan kita adalah sama-sama sampai di ujung jalan itu. Bukan hanya kau bukan juga hanya aku, kita berdua.Kekasih aku bosan bertengkar karena hati yang berseberangan paham. Dan demi hati yang saling bertautan biarkan aku menggenggam tanganmu sampai di ujung jalan itu. Ya sampai diujung jalan itu.

Tagged , , , , , ,

Aku Bercerita Cemburu

Aku pencemburu
bahkan pada air yang membasuh wajah manismu
kemudian ia menetes mengalir lewati dagumu

Aku pencemburu
bahkan pada angin yang menerpa kepalamu
kemudian terus meniup hingga ujung jibabmu

Aku pencemburu
bahkan pada guling dalam pelukanmu
kemudian membawamu lelap sampai pagi

Tapi salahkah
bahkan Tuhan saja pencemburu
hingga melarang bersujud kepada sesembahan lain