Sampai di Ujung Jalan


Kekasih..

Bukankah tangan kita telah menggenggam, tapi kenapa mulut kita masih saja bergumam menyulut tengkar. Walaupun setelah itu kita akan berjabatan melupakan, tapi apakah kau tidak bosan sayang, yang sesekali bermusuhan karena ego lebih di kedepankan. Aku muak sayang biarkan saja tangan yang menggenggam ini hanya bertugas menggenggam tanganmu jangan karena bermaafan, aku letih untuk itu.
Kekasih
Bukankah hati kita telah bertautan, kenapa akal kita masih adu hantam mementingkan prinsip. Walaupun kelak kan berdamai saling membuat senyum, tapi apakah kau tidak jenuh sayang, yang sesekali beradu argumen karena mengutamakan faham. Aku lelah sayang biarkan hati kita saja yang bertautan kesampingkan saja akal dengan prinsip-prinsipnya, bukankah kita setuju cinta itu tentang hati bukan ranah akal untuk membahasnya.
Kekasih
Kita sama-sama telah sepakat untuk melangkah kaki di jalur jalan yang sama, ujung jalannya memang tak tampak jaraknya sangat jauh mungkin kaki-kaki kita akan letih di tengah jalan. Tapi kita tak kan saling meninggalkan kan ?. Memang tak ada kuikrarkan janji seperti itu dan kau juga tak pernah mengikrarkannya, tapi bukankah kesepakatan kita adalah sama-sama sampai di ujung jalan itu. Bukan hanya kau bukan juga hanya aku, kita berdua.Kekasih aku bosan bertengkar karena hati yang berseberangan paham. Dan demi hati yang saling bertautan biarkan aku menggenggam tanganmu sampai di ujung jalan itu. Ya sampai diujung jalan itu.

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: