Monthly Archives: May 2013

Tak Perlu Datang

Kau tak perlu datang kemari

membasahi kakimu melewati kubangan penuh lumpur, lompatanmu akan menciptakan ciprat noda kotor pada gaun indahmu

Kau tak perlu datang kemari Continue reading

Advertisements
Tagged , , , , ,

Kehilangan dan Luka Itu Perlu

 Kamu…maksudku bayanganmu masih saja  menempati tempat terindah dalam hatiku, sampai kapan aku tak tahu. Dan dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu. Hingga aku merasakan redupnya cahaya hati ku pada saat akal mengingat apa yang telah kau tunjukkan, apa yang telah engkau berikan.

 Air mataku tak mampu kutampung lagi bendungannya yang telah terlalu lama menahan kini tak sanggup lagi kini tak kuat lagi. Aku membiarkannya tumpah hingga pipi membasah, aku membiarkannya mengalir agar hati tak terus menggigil, iyaa.. aku menangis. Aku memilih menangis  di malam ini aku memilih menangis di kamarku ini. Tiba-tiba..

 “Cukup sudah kau tertahan dalam persimpangan masa silammu itu“

Aku terkejut medengarnya, suara itu suara yang mampu menjinakkan amarah tak karuan, suara yang mampu menenangkan hati yang berantakan. Suara yang aku rindukan dalam tahunan.

 “Kamu ??”

 “Iya sayang. Ini aku.”

Jawabmu sambil serahkan senyum terindah milikmu,bukan.. bukan hanya senyum mu, wajahmu, rambutmu, semua kamu karena kamu adalah keindahanku.

“Kenapa kau harus terus menangis saat mengingat ku”

 “Kau pasti tahu kenapa”

 Kau cemberut senyummu mengkerut tatapanmu sedih, aku tidak suka.

“Cobalah untuk melawan getir yang terus kau kecap itu.  Bukannya malah membiarkannya masuk dan meresap ke dalam sukmamu”

Aku sudah mencobanya”  jawabku yakin

 “Aku tak bisa bahkan hanya sekedar tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu aku tak bisa, ia seperti  telah mengalir mengisi laju darahku”

“Aku tak bisa, bahkan hanya sekedar tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu. Sudah membaur bersama laju darahku”

Kemudian kita menyatu dalam diam menyatukan kamu yang kecewa akanku menyatukan aku yang kecewa akan keadaan. Semuanya telah berbeda sekarang diam kita pun tidak tetang saling menyampaikan cinta lagi. Dan seperti biasa kau tahu isi kepalaku.

“Semuanya tak sama lagi sayang.. dan tak akan pernah sama” kata-kata mu penuh dengan kesedihan.

“Kau benar semua tak sama lagi, apa yang kusentuh apa yang kukecup, tak ada yang hangat sehangat pelukmu tak ada yang lembut selembut belaimu”

“Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu”

 Kau menghela nafasmu melepaskannya kencang seolah kau sedang berhadapan dengan masalah tersulitmu, padahal aku yang sedang bermasalah terhadapmu.

 “Kau tahu arti hidupku sekarang ini, hanya sekedar memapahku dalam ketiadaan”

“Tak mampu tegak  sekarang semuanya segalanya telah  luruh lemah tak bertumpu, Hanya bersandar pada dirimu”

 “Aku tak bisa, sungguh tak bisa untuk menggantkan kamu dengan yang lain bahkan dengan dirinya”

Dan setelah kau mendengar itu aku malah menyesal mengatakannya, ternyata kau masih bisa menangis, tapi aku tak mau melihatnya aku tidak suka aku tidak ingin melihatnya karena basahnya pipimu adalah cambukkan yang menghasilkan perih untuk hatiku, aku menyesal.

 “Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuat kamu mengeluarkan air mata” bujukku

“Tidak masalah bagiku jika aku harus menangis, tapi yang menjadi masalah sampai kapan kau terus bertahan seperti ini”

“Sampai kapan kau tetap terus tenggelam dalam masa lalumu akanku. Sampai kapan kau mesti terlepas dengan masa depanmu”

“Bukankah telah kukatakan padamu hidup tak selamanya indah, bukankah kita saling berjanji untuk menghadapi apapun yang akan terjadi dan menyerahkan semuanya kepada Tuhamn”

“Bukalah mata dan hatimu relakan semua relakanah aku “kau mengataknnya sambil tersenyum senyum paling indah yang kamu ukir buatku dan seperti biasa kamu dan bahasa lembutmu mampu menenangkan aku.

 Keesokan Harinya…

Cahaya hangat mentari pagi menerobos masuk dalam sela-sela jendelaku membangunkan aku menepuk lelap dari tidurku agar tersadar. Dan ternyata tadi malam pertemuanku denganmu hanyalah berupa mimpi tapi terasa nyata.Aku bangkit dari tidurku dan duduk di tepi kasurku mengingat mimpi bertemu kamu, kamu hebat hanya sekedar mimpi pun bahkan menenangkan aku.

Dan tanpa sengaja saat aku mengingat mimpi itu tanganku menyentuh sebuah tanaman yang terletak disampingku. Aku mengambilnya dan terkejut melihatnya, karena tanaman ini adalah tanaman kesukaanmu.

“Padi ?”

“Siapa yang meletakkannya?”

Dan tanpa kuperintah akalku mengingatkan ku perkataan yang pernah kau ujarkan dulu, sebuah kalimat yang menyebabkan mengapa kau begitu menyukai tanaman yang aku gak pernah ngerti apa maksudnya.

Kehilangan dan luka itu perlu, Karena padi saja harus melepas dari batangnya untuk menjadi nasi

Sekarang aku mengerti , sekarang aku merelakanmu  Kau pasti bahagia disana bersama Tuhan.

“Terimakasih telah hadir tadi malam ?”

(Cerita fiksi ini di adaptasi dari lagu padi “Semua Tak Sama”)

Tagged , , , , ,

Pujangga, Senja dan Pecinta

Mereka adalah pujangga ulung
Mencintai senja beserta jingganya
Kemudian meramunya dalam secawan puisi
Menggoda pecinta yang dimabuk oleh cintanya sendiri
Sementara aku masih rutin menyimak dari ujung pintu masuk

Tagged , , ,