Jenuh


Siapa yang tidak pernah merasakan jenuh. Manusia mana yang tak mempan lewat serangan jenuh, bahkan para peneliti hewan yang kurang kerjaan juga menemukan bahwa terkadang hewan yang ditelitinya juga jenuh. Sebahagian manusia yang beruntung menemukan musabab kejenuhannya, sebahagian kecil terkadag bingung kenapa bisa disapa tabiat buruk manusia tersebut. Tapi sebahagian besar manusia dari sebahagian besar manusia yang menemukan sebab kejenuhannya hanya beruntung pada menemukan sebabnya saja karena hanya sebahagian kecil yang mampu berobat sisanya linglung didera kejenuhannua tersebut

Aku jenuh
Karena berhubung aku juga manusia aku juga merasakan jenuh. Jenuh pada sengatan matahari yang itu-itu saja, jenuh pada bising kota yang rutin menyapa, jenuh pada bulan yang siklus sinarnya tak pernah berbeda, bahkan aku jenuh pada kejenuhan tersebut

Aku jenuh
Sampai-sampai jutaan hurup yang kutulis pada berkas draf yang semakin menumpuk karena ujung yang tak pernah sua. Gawat kan, niat mulia menjadi seorang penulis harus mendekam di dekap jenuh.

Aku jenuh
Seharusnya jenuh tak perlu datang, seharusnya tak perlu bermalam tak kasihankah jenuh itu pada sosok yang melankolis bak pelntun kidung rindu ini. Atau apa perlu aku menjadi musyrik membakar dupa, merapal mantra agar ia pamit undur, dan tak perlu balik lagi seperti mati manusia yang dikubur dan tak pernah bangun lagi.

Aku jenuh
Ah sudahlah sampai jutaan karakter yang di ketik sekalipun jenuh masih saja merasa tamu kehormatan yang dijamu.

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: