Category Archives: puisi

Sudah sepi, sekarang mau apa lagi
janji-janji sudah menghitam di legam malam
ratu malam menyambitmu terbelah karena elokmu
sudah sepi, keluargaku sudah menanti

Sudah malam, sekarang dini yang berjaga
Petang tadi jalan yang terjulur sedikit panjang
jumpa terulur kembali tak pasti
sudah malam, keluargaku sudah menanti

Aku memilih pulang
menunggu juga sia-sia
lenguhanmu sudah digilir pasti

aku memilih pulang
esok mungkin aku tak datang
keluargaku terlalu lama kudiamkan
mereka sudah menanti

Aku Pulang

Advertisements

seperti melangkahi waktu
hatiku telah rintik saat sore tadi
sementara lagit masih sekedar kelabu
mendung hanya separuh mengawini awan

seperti mengkhianati waktu
memori sering sembunyi menyusup ke pikiran
memaparkan keindahan silam yang semestiya tersimpan
kenangan rutin membangkang

seperti melawan waktu
semuanya menjadi poranda
sebab harap merayu akal
untuk menolak asa membentuk cita

sampai kuyub jalanan kota
semuanya seperti membenci waktu

Membenci Waktu

Tagged , , , , ,

Tak Perlu Datang

Kau tak perlu datang kemari

membasahi kakimu melewati kubangan penuh lumpur, lompatanmu akan menciptakan ciprat noda kotor pada gaun indahmu

Kau tak perlu datang kemari Continue reading

Tagged , , , , ,

Pujangga, Senja dan Pecinta

Mereka adalah pujangga ulung
Mencintai senja beserta jingganya
Kemudian meramunya dalam secawan puisi
Menggoda pecinta yang dimabuk oleh cintanya sendiri
Sementara aku masih rutin menyimak dari ujung pintu masuk

Tagged , , ,

Hidup Adalah Senandung

Hidup sebenarnya sedang bersenandung
bernyanyi lewat melodi takdir yang di ukir Si Penakdir
kadang bersenandung mesra dalam hentakan bahagia
kadang menyanyi pilu dalam melankolia duka

Tagged , ,

Mari Kita Bersajak

Mari kita bersajak

Tak perlu takut akan rima yang sering kita bingungkan

Mengatur ujung-ujung kalimat agar terbaca seirama
Bersajak saja sesuka hati kita
Mengatur kata-kata indah versi kita
Bukan kah dalam kehidupan sendiri
kita sudah terlalu sibuk dengan aturan-aturan
Menjalankannya agar seirama dengan pikiran
Apa tidak terlalu muak seperti itu terus
Sementara sajak sendiri tidak peduli pada aturan-aturan
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbentuk
Tertulis dalam deretan paragraf
Ia juga tak peduli pada baris
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbaris
Entah itu banyak baris
Entah itu satu baris
Ia juga tak peduli pada jari-jari tangan yang menulis
Dia hanya peduli bahwa ia akan tertulis
Entah itu pada goresan pena
Entah itu pada coretan tinta
Atau mungkin pada lembaran dalam berkas di komputer
Mari kita bersajak
Jangan peduli pada rima
Jangan sampai sajak muak
karena terlalu lama di pendam dalam tempurung akal
Mari kita bersajak
Tagged

Sampai di Ujung Jalan

Kekasih..

Bukankah tangan kita telah menggenggam, tapi kenapa mulut kita masih saja bergumam menyulut tengkar. Walaupun setelah itu kita akan berjabatan melupakan, tapi apakah kau tidak bosan sayang, yang sesekali bermusuhan karena ego lebih di kedepankan. Aku muak sayang biarkan saja tangan yang menggenggam ini hanya bertugas menggenggam tanganmu jangan karena bermaafan, aku letih untuk itu.
Kekasih
Bukankah hati kita telah bertautan, kenapa akal kita masih adu hantam mementingkan prinsip. Walaupun kelak kan berdamai saling membuat senyum, tapi apakah kau tidak jenuh sayang, yang sesekali beradu argumen karena mengutamakan faham. Aku lelah sayang biarkan hati kita saja yang bertautan kesampingkan saja akal dengan prinsip-prinsipnya, bukankah kita setuju cinta itu tentang hati bukan ranah akal untuk membahasnya.
Kekasih
Kita sama-sama telah sepakat untuk melangkah kaki di jalur jalan yang sama, ujung jalannya memang tak tampak jaraknya sangat jauh mungkin kaki-kaki kita akan letih di tengah jalan. Tapi kita tak kan saling meninggalkan kan ?. Memang tak ada kuikrarkan janji seperti itu dan kau juga tak pernah mengikrarkannya, tapi bukankah kesepakatan kita adalah sama-sama sampai di ujung jalan itu. Bukan hanya kau bukan juga hanya aku, kita berdua.Kekasih aku bosan bertengkar karena hati yang berseberangan paham. Dan demi hati yang saling bertautan biarkan aku menggenggam tanganmu sampai di ujung jalan itu. Ya sampai diujung jalan itu.

Tagged , , , , , ,

Aku Bercerita Cemburu

Aku pencemburu
bahkan pada air yang membasuh wajah manismu
kemudian ia menetes mengalir lewati dagumu

Aku pencemburu
bahkan pada angin yang menerpa kepalamu
kemudian terus meniup hingga ujung jibabmu

Aku pencemburu
bahkan pada guling dalam pelukanmu
kemudian membawamu lelap sampai pagi

Tapi salahkah
bahkan Tuhan saja pencemburu
hingga melarang bersujud kepada sesembahan lain

Kamu Selalu Cantik

“Meskipun nanti kau berikrar dengan yang lain, berjanjilah bahwa cintamu adalah hakku seutuhnya !”

Aku cuma bisa diam, mungkin lebih tepatnya terdiam karena kau masih menuntut hal yang sama.  Padahal tanpa kau tuntut sekalipun kau tetap memilikinya.

“Aku tidur dulu ya. Mungkin kamu bakalan lama nunggu aku bangun, lebih baik pulang saja”

Untuk kali ini aku tidak menuruti keinginanmu seperti biasa karena aku ingin melihat kamu saat tidur.  Saat itu aku yakin pasti kau kelihatan sangat cantik, karena ayahku pernah bilang wanita sangat cantik saat ia tidur, polos tanpa beban.

Esok harinya

Kau kelihatan cantik hari ini. Bukan…. maksudku bukan hari ini saja kau kelihatan cantik, jika kau masih bisa mendengar ujarku tadi kau pasti marah. Maksudku kau kelihatan cantik setiap hari tapi hari ini lebih cantik, dengan gaun putih dan polesan dandanan sederhana. Bahkan mataku seperti membenci untuk memejam karena memang inilah terakhir kali kecantikanmu kupandangi.

Peti pun ditutup dan diturunkan ke dasar liang berbanding terbalik dengan keran air mata ku yang malah terbuka lebar, air mataku menguyur deras dan membasahi pipiku, kuyub hatiku juga turut basah. Perlu bantuan pelukan dan nasehat ayah dan ibumu untuk menenangkan ku saat pemakamanmu ini.

Tagged ,

kamu cita kamu cinta

Kamu dengan bayangmu

Perpaduan keindahan yang mengusik harapku

Kemudian merayu cita

Memasuki kamu dalam hal yang ingin kugapai

Kamu dengan sifatmu

Perpaduan keindahan yang memanggil pikirku

Kemudian menyuruh tidur

Rutin mejiplak kamu dalam mimpi yang sering sepi

Kamu dengan senyummu

Perpaduan elok yang mencipta rasa

Kemudian mentitah hati

Membangun rindu yang dulu tak pernah ada

Dan Aku

Mencoba terus berlari untuk menggapai banyak cita

Yang didalam deretnya ada kamu yang sedang kucinta

Tagged , , ,