Tag Archives: puisi

seperti melangkahi waktu
hatiku telah rintik saat sore tadi
sementara lagit masih sekedar kelabu
mendung hanya separuh mengawini awan

seperti mengkhianati waktu
memori sering sembunyi menyusup ke pikiran
memaparkan keindahan silam yang semestiya tersimpan
kenangan rutin membangkang

seperti melawan waktu
semuanya menjadi poranda
sebab harap merayu akal
untuk menolak asa membentuk cita

sampai kuyub jalanan kota
semuanya seperti membenci waktu

Membenci Waktu

Tagged , , , , ,

Tak Perlu Datang

Kau tak perlu datang kemari

membasahi kakimu melewati kubangan penuh lumpur, lompatanmu akan menciptakan ciprat noda kotor pada gaun indahmu

Kau tak perlu datang kemari Continue reading

Tagged , , , , ,

Pujangga, Senja dan Pecinta

Mereka adalah pujangga ulung
Mencintai senja beserta jingganya
Kemudian meramunya dalam secawan puisi
Menggoda pecinta yang dimabuk oleh cintanya sendiri
Sementara aku masih rutin menyimak dari ujung pintu masuk

Tagged , , ,

Hidup Adalah Senandung

Hidup sebenarnya sedang bersenandung
bernyanyi lewat melodi takdir yang di ukir Si Penakdir
kadang bersenandung mesra dalam hentakan bahagia
kadang menyanyi pilu dalam melankolia duka

Tagged , ,

Mari Kita Bersajak

Mari kita bersajak

Tak perlu takut akan rima yang sering kita bingungkan

Mengatur ujung-ujung kalimat agar terbaca seirama
Bersajak saja sesuka hati kita
Mengatur kata-kata indah versi kita
Bukan kah dalam kehidupan sendiri
kita sudah terlalu sibuk dengan aturan-aturan
Menjalankannya agar seirama dengan pikiran
Apa tidak terlalu muak seperti itu terus
Sementara sajak sendiri tidak peduli pada aturan-aturan
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbentuk
Tertulis dalam deretan paragraf
Ia juga tak peduli pada baris
Dia hanya peduli bahwa ia akan terbaris
Entah itu banyak baris
Entah itu satu baris
Ia juga tak peduli pada jari-jari tangan yang menulis
Dia hanya peduli bahwa ia akan tertulis
Entah itu pada goresan pena
Entah itu pada coretan tinta
Atau mungkin pada lembaran dalam berkas di komputer
Mari kita bersajak
Jangan peduli pada rima
Jangan sampai sajak muak
karena terlalu lama di pendam dalam tempurung akal
Mari kita bersajak
Tagged

Entah Mau Buat Judul Apa ?

Semua telah habis

lewat kapiler-kapiler hati dan kemudian menghamburkannya

Habis..habis..dan habis

Semua telah menghilang

ibarat air yang menguap karena hangatnya mentari

Hilang..hilang..hilang

Tak ada lagi yang bersisa

meskipun sedikit rindu, meskipun sedikit harap

dengan hati yang baru tentunya

harapan kebahagian untuk kamu bersamanya

tentu saja kututur lewat rapatan tangan munajatku

Dan sekarang gililran aku

giliran raga yang telah belajar dari sakit

untuk mencari bahagianya sendiri

merajut cita,harap, dan tentu saja cinta yang baru

Terimakasih untuk kamu

sejenak kita bahagia bersama

selamanya kita bahagia sendiri

Tagged ,

Gak Harus Pake’ Judul ‘kan ?

Tuhan sepertinya suka memainkan aku

Menjadikan kamu yang terindah di hatiku

Tapi tidak ada itikad baik dari Tuhan untuk menyatukan kamu denganku

Malahan membalikkan hati kamu ke masa lalu kamu

Kurang puas dengan itu

Hampir setiap malam Tuhan menciptakan bayangan kamu

dalam mimpi yang menyenyakkan aku

Aku ingin protes

merutuki kekejaman Tuhan terhadap hatiku

tapi aku bisa apa

Aku cuma hamba yang menyembahNya

kemudian  menjalankan semua takdir yang diciptakanNya

Sekarang aku sedang memperbaiki hatiku

yang sedang disakiti Tuhan lewat cinta akanmu

Aku anggap aja itu pembelajaran

Supaya aku tahu bahwa ada yang lebih baik nunggu aku

di seberang jalan setelah kesuksesan aku

yang jelas itu bukan kamu

Tagged ,